Selasa, 11 Desember 2012

Wacana menghidupkan kembali kekaroan dan kemelayuan di Patumbak

      Dalam beberapa kesempatan, para tokoh masyarakat dan pemuda di Kampung Karo – Patumbak, tidak jarang melontarkan keinginan untuk menambalkan jalan ke Kampung Karo ini dengan nama Karo, salah satunya usulan nama pendiri Kampung Karo yakni Tala Barus. Bukan hanya itu, ditingkat kecamatan juga beberapa kali muncul wacana untuk menambalkan nama Tengku Wan Epen Barus yang merupakan Raja Urung Senembah – Patumbak menjadi nama Jalan Besar Patumbak yang sampai pada saat ini masih bernama Jalan Pertahanan. Namun, hingga kini itu masih dalam sebatas wacana dan bahkan wacana-pun telah padam tanpa bekas.



Simpang Kampung Karo(Koleksi: Bastanta P. Sembiring, 2006)

Jika ditelisik lebih dalam, latar belakang dari munculnya wacana nama jalan ini tidak lain adalah rasa rindu akan wajah Patumbak dahulu yang kental akan rasa kekaroan dan kemelayuan-nya, dimana kita ketahui bahwa Patumbak yang kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Deliserdang(Kec. Patumbak) dulunya adalah salah satu Negeri(kerajaan) Urung Karo yang dipinpin oleh seorang raja urung ber-merga Karokaro Barus. Bahkan ibu kota Urung Senembah dalam sejarah tercatat berkedudukan di Petumbak(Patumbak).  Hal ini masih tampak dengan berdirinya sebuah bangunan tua tepat di simpang menuju Kampung Karo sekitar ± 100 meter dari kantor camat Patumbak, yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut sapo(rumah) mbelin, yang tidak lain adalah istana ataupun kediaman keluarga Raja Urung Senembah hingga saat ini.

Dan, wacana itu terdengar lebih mengaung di Kampung Karo, mengingat telah terkikisnya, bahkan hampir lenyap rasa kekaroan di bumi Senembah Patumbak Simalem ini, dan menyadari hanya Kampung Karo – Patumbak inilah satu-satunya yang hingga kini menunjukkan kekaroan itu, walaupun kini hanya sebatas nama saja!

Peta yang menunjukkan Kampung Karo-Patumbak
Peta Patumbak(wikipedia, modifikasi: Bastanta P. Sembiring)

 Perlu diketahui, cara pandang masyarakat Karo yang lebih kepada mengedepankan harmonisasi ketimbang eksploitasi ataupun penaklukan, membuat pergerakan itu melambat, kian meredup, dan sesekali muncul kembali jika diasah. Dan, jikalaupun terlalu sering disah, tetap sifat yang lebih kepada mengedepankan harmonisasi terlalu memikirkan apa yang ada di sekitar, sehingga nama yang bersifat lebih nasionalis lebih diutamakan daripada nama kedaerahan. Namun lucunya, disatu sisi ini terasa sangat aneh, karena saat teman-teman dari etnis lain memaksakan untuk menambalkan yang identik dengan etnisnya seperti yang terjadi pada Bandara Internasional Kuala Namo, masyarakat Karo ini seperti orang tua yang kebakaran jenggot. Jadi, apa salahnya kita mengusulkan nama yang identik dengan kita, toh memang itu daerah kita dan kampung halaman kita? Bukankah dengan demikian kita turut berperan menjaga kekayaan bangsa ini? Mejuah-juah.

Lihat juga:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar