Tampilkan postingan dengan label budaya Karo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya Karo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Sora Mido

Sora Mido(Suara Kesedihan), merupakan ungkapan kesedihan ataupu ratapan karena peperangan yang menimbulkan banyak korban harta, benda, dan jiwa. Lagu ini menggambarkan totalitas masyarakat Karo dalam berperang mempertahankan harga diri dan wilayahnya, dimana sejarah mencatat bahwa hampir seluruh wilayah Taneh Karo Simalem dibumi-hanguskan agar serdadu Belanda tidak dapat mempergunakan fasilitas apapun untuk menunjang administrasi dan pertahanannya di Taneh Karo(Dalan catatan sejarah Drs. Teridah Bangun, pada agresi Belanda I tahun 1947 banyak kuta (kampung) yag dibumi-hanguskan supaya tidak dapat dipergunakan oleh penjajah. Terdapat 53 kuta yang dibumihanguskan di Tanah Karo, yakni: 1. Jumaraja (Cintarayat); 2. Keling; 3. Payung; 4. Berastepu; 5. Batukarang; 6. Sarinembah; 7. Perbesi; 8. Kuala; 9. Kutabangun; 10. Pergendangen; 11. Keriahen; 12. Singgamanik; 13. Kinepen; 14. Munthe; 15. Suka; 16. Rumah Kabanjahe; 17. Kota Kabanjahe; 18. Berastagi; 19. Kacaribu; 20. Kandibata; 21. Lau Baleng; 22. Susuk; 23. Tiganderket. 24. Kuta Buluh; 25. Tanjung; 26. Gurukinayan; 27. Selandi 28. Kidupen; 29. Gunungmanukpa; 30. Toraja; 31. Silakkar; 32. Rajatengah; 33. Tigabinanga; 34. Ajinembah; 35. Tiga Panah; 36. Barus Jahe; 37. Tigajumpa; 38. Merek; 39. Tengging; 40. Garingging; 41. Ergaji; 42. Barung Kersap; 43. Tanjung Beringin; 44. Naman; 45. Sukadebi; 46. Kutatengah; 47. Sigarang-garang; 48. Ndeskati; 49. Gamber; 50. Gruhguh; 51. Sukajulu; 52. Kuta Lepar; dan 53. Mbang Sibabi. Kemudian rakyat Karo mengungsi ke Tanah Pakpak Dairi dan Tanah Alas di Aceh. Setelah perjanjian Renville Januari 1948 baru mereka kembali ke kampungnya masing-masing.)

Lagu dengan melodi yang liris dan syahdu yang sangat tergambar kesedihan dan kepiluan didalamnya, ditambah penjelasan dari syairnya yang menggambarkan kekejaman peperangan, sehingga dibait-bait akhirnya ada terselip pesan bagi para sinatang layar-layar(pemegang bendera, maksudnya: bendera lambang negara yang berdaulat, sehingga sinatang layar-layar merujuk kepada orang-orang yang memegang kedaulatan atau sederhananya pemerintah yang berkuasa) jangan melupakan kegetiran masa perang dan agar menghormati jasa-jasa pejuang dan keluarganya yang telah berkorban, sehingga kelak tidak adalagi peperangan dan generasi berikutnya mampu menghargai jasa perjuangan bangsanya dan membawa bangsa Indonesia ini ke perubahan yang terus semakin baik. Berikut syair dari lagu Sora Mido, karya Djaga Depari.

Sora Mido
Terbegi sora bulung-bulung erdeso
I babo makam pahlawan silino
Bangunna serko medodo
Cawir cere sorana mido-idom
Cawir cere sorana mido-idom

Terawih dipul meseng kutanta ndube
Iluh silumang ras simbalu-mbalu erdire-dire
Sora ndehereng erperenge-renge ate
Kinata ngayak-ngayak medeka ndube
Kinata ngayak merdeka ndebe

Emakana tangarlah si’ncikep layar-layar
Ola kam merangap, turang dingen ola kena erjagar-jagar
Kesah ras dareh kel ndube tukurna merdekanta enda
Ola lasamken pengorbanen bangsanta
Ola lasamken kahulna bangsanta

Enggo kap megara lau lawit ban dareh simbisanta
Enggo megersing lau paya-paya ban iluh tangista
Enggo kap gelap langit perbahan cimber meseng kutanta ndube
Kinata ngayak-ngayak medeka kita
Kinata ngayak-ngayak merdeka kita

Tegu min dage temanta si’nggo cempang
Didong doahken anak sitading melumang
Keleng ras dame ateta sada karang
Em pertangisen kalak lawes erjuang
Em pertangisen kalak lawes erjuang


Terbegi sora bulung-bulung erdeso
Cawir cere sorana mido-idom
Cawir cere sorana mido-idom







I juma I padang sambo


         Kata Padang Sambo dalah tradisi Karo sering dipakai untuk menunjukkan sebuah lokasi/tempat kegiatan untuk mencari nafkah, bisa berupa laut(nelayan), juma-juam(ladang: petani), tiga/pajak(pasar: pedagang), dlsb.


            Adapun lagu I juma-juma I padang sambo ini menceritakan kegetiran dimasa perang, dimana beru Indonesia(putri Indonesia) bukan saja ikut serta secara langsung ke medan perang apakah sebagai tenaga medis, logistik, ataupun ikut serta mengangkat senjata, akan tetapi ada hal yang tak kalah penting, dima kaum wanita ini juga bertanggung jawab dalam membesarkan, merawat, serta memenuhi segala kebutuhan keluarga saat suaminya ataupun ayahnya pergi ke medan perang.  Berikut syair dari lagu I juma-juma I padang sambo, karya: Djaga Depari.

Seh kel bergehna bage I tengah juma
Rikut udanna pe gembura
Wari si ben pe bage ‘nggo ndabuh ku gelapna
I juma-juma I padang sambo
Doah-doah kudidong o, turang la megogo
E(i) karaben I padang sambo

Ola kel tangis, turang gelah kena mehuli
Nde lenga gia bapanta mulih
Ibas tugasna nari si la erlatih-latih
Engkawali rakyat si la erpilih
Doah-doah kudidong o, turang la megogo
E(i) karaben i padang sambo

Tangiska turang singuda ari
Terbapa-bapa la erngadi-ngadi
Mejuah-juah gelah bapata agi
Mulih me pagi mbaba berita simehuli

I juma-juma I padang sambo
Doah kudidong o, turang la mego-go

 




Erkata Bedil

Erkata Bedil adala salah satu lagu perjuangan Karo(dalam cakap/bahasa Karo), karya komponis nusantara Djaga Sembring Depari(Djaga Depari) asal Desa Seberaya, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jika kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Erkata Bedil mengandung artian “bunyi/dentuman senjata”. Erkata Bedil i kuta Medan(dentuman/bunyi senjata di kota Medan)adalah kalimat pembuka dari syair lagu ini serta di baris kedua dilanjutkan dengan kalimat Ngataken kami maju ngelawan(sebagai pertanda(panggilan) bagi kami untuk maju melawan). Itulah dua baris kalimat pada bait pembuka(pertama) dari lagu karya Djaga Depari ini. Medan merupakan kota yang didirikan oleh seorang putra Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi asal Ajijahe(dataran tinggi Karo) yang didiami penduduk asli dari suku Karo, Melayu, dan Simalungun, sehingga masuk dalam walayah Taneh Karo Simalem, ataupun merupakan salah satu wilayah adat suku Karo. Berkobarnya peperangan di kota Medan menjadi rasa tanggung jawab bagi pemuda/i Karo dari wilayah-wilayah Taneh Karo lainnya untuk membantu saudara-saudaranya yang di kota Medan. Perang di Medan adalah perang bagi seluruh wilayah dan masyarakat Karo, maka sering dikatakan “dari Medan area menuju Karo area” ini menunjukkan bahwa Medan adalah salah satu benteng terdepan yang sangat penting bagi dataran tinggi Karo dan dataran tinggi Karo juga merupakan kekuatan utama dari Dusun(Karo Jahe: Deli – Serdang/Medan), atau bisa dikatakan gudang laskar Simbisa(Simbisa sebutan bagi laskat/pasukan Karo). Jika basis pertahanan Medan telah takluk maka pastilah serangan akan ditujukan ke dataran tinggi Karo, dan begitu juga sebaliknya. Karena, Medan dan dataran tinggi Karo merupakan satu jaringan kekuatan perjuangan masyarakat Karo yang terus terhubung dan tak terpisahkan. Hal ini juga tergambar dalam Perang Sunggal yang tercatat sebagai perang telama yang pernah berlangsung di nusantara, dimana saat Datuk Sunggal Karo-karo Surbakti penguasa Urung Serbanyaman berperang melawan serdadu Belanda yang dibantu oleh Sultan Deli, masyarakat Karo dari wilayah Taneh Karo lainnya khususnya dari gugung(gunung/dataran Tinggi Karo) tidak bisa berdiam diri saja, maka pasukan Simbisa Taneh Karo pimpinan Nabung Surbakti yang mendapat persenjataan dari perdagangan dengan Portugis yang dalam penuturang karo disebut bangsa Peringgi dan Turki melalui Aceh(Acih) dan senjata tradisional Karo berupa tumbak/lambing(tombak/lembing), tumbuk lada(keris khas Karo), leltep(sumpit beracun), dll berbondong-bondong turun gunung membantu pasukan Datuk Sunggal melawan penjajah.
           
Itulah sekilas gambaran totalitas masyarakat Karo dalam hal berperang dalam rangka mempertahankan harga diri dan kedaulatan Taneh Karo Simalem dan dalam perang kemerdekaan Indonesia. Berikut syair dari lagu Erkata Bedil.

Erkata bedil i kuta Medan turang la megogo
Ngataken kami maju ngelawan ari oh, turang
Tading ijenda si turang besan turang la megogo
Rajin kujuma si muat nakan ari o, turang

O, turang la megogo ( kai aku nindu turang? )
Uga sibahan arihta?
Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

Adina lawes kena ku medan perang turang la megogo
Petetap ukur ola melantar ari o, turang
Adina ue nina pagi pengindo turang la megogo
Sampang nge pagi simalem ukur ari o, turang

Oh, turang la megogo (kai nindu ari turang?)
Uga sibaha arih-arihta?
Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

Adina sudu tangkena lenga turang la megogo
Pasarna licin bentengna wajan ari o, turang
Adina tuhu atendu ngena turang la megogo
Tantangi cincin man tanda mata ari o, turang

[ O, turang la megogo ( kai aku nindu turang? )
Uga sibahan arihta?

Arih-arihta tetap ersada ari o turang ] 2x





Selasa, 11 Desember 2012

Wacana menghidupkan kembali kekaroan dan kemelayuan di Patumbak

      Dalam beberapa kesempatan, para tokoh masyarakat dan pemuda di Kampung Karo – Patumbak, tidak jarang melontarkan keinginan untuk menambalkan jalan ke Kampung Karo ini dengan nama Karo, salah satunya usulan nama pendiri Kampung Karo yakni Tala Barus. Bukan hanya itu, ditingkat kecamatan juga beberapa kali muncul wacana untuk menambalkan nama Tengku Wan Epen Barus yang merupakan Raja Urung Senembah – Patumbak menjadi nama Jalan Besar Patumbak yang sampai pada saat ini masih bernama Jalan Pertahanan. Namun, hingga kini itu masih dalam sebatas wacana dan bahkan wacana-pun telah padam tanpa bekas.



Simpang Kampung Karo(Koleksi: Bastanta P. Sembiring, 2006)

Jika ditelisik lebih dalam, latar belakang dari munculnya wacana nama jalan ini tidak lain adalah rasa rindu akan wajah Patumbak dahulu yang kental akan rasa kekaroan dan kemelayuan-nya, dimana kita ketahui bahwa Patumbak yang kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Deliserdang(Kec. Patumbak) dulunya adalah salah satu Negeri(kerajaan) Urung Karo yang dipinpin oleh seorang raja urung ber-merga Karokaro Barus. Bahkan ibu kota Urung Senembah dalam sejarah tercatat berkedudukan di Petumbak(Patumbak).  Hal ini masih tampak dengan berdirinya sebuah bangunan tua tepat di simpang menuju Kampung Karo sekitar ± 100 meter dari kantor camat Patumbak, yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut sapo(rumah) mbelin, yang tidak lain adalah istana ataupun kediaman keluarga Raja Urung Senembah hingga saat ini.

Dan, wacana itu terdengar lebih mengaung di Kampung Karo, mengingat telah terkikisnya, bahkan hampir lenyap rasa kekaroan di bumi Senembah Patumbak Simalem ini, dan menyadari hanya Kampung Karo – Patumbak inilah satu-satunya yang hingga kini menunjukkan kekaroan itu, walaupun kini hanya sebatas nama saja!

Peta yang menunjukkan Kampung Karo-Patumbak
Peta Patumbak(wikipedia, modifikasi: Bastanta P. Sembiring)

 Perlu diketahui, cara pandang masyarakat Karo yang lebih kepada mengedepankan harmonisasi ketimbang eksploitasi ataupun penaklukan, membuat pergerakan itu melambat, kian meredup, dan sesekali muncul kembali jika diasah. Dan, jikalaupun terlalu sering disah, tetap sifat yang lebih kepada mengedepankan harmonisasi terlalu memikirkan apa yang ada di sekitar, sehingga nama yang bersifat lebih nasionalis lebih diutamakan daripada nama kedaerahan. Namun lucunya, disatu sisi ini terasa sangat aneh, karena saat teman-teman dari etnis lain memaksakan untuk menambalkan yang identik dengan etnisnya seperti yang terjadi pada Bandara Internasional Kuala Namo, masyarakat Karo ini seperti orang tua yang kebakaran jenggot. Jadi, apa salahnya kita mengusulkan nama yang identik dengan kita, toh memang itu daerah kita dan kampung halaman kita? Bukankah dengan demikian kita turut berperan menjaga kekayaan bangsa ini? Mejuah-juah.

Lihat juga:


Kamis, 02 Februari 2012

Rumah Adat Karo

A. Pengantar

              Pada umumnya masyarakat Karo, dahulu (sekarang juga masih ada) tinggal di rumah adat, yang dimana kita ketahui biasanya dalam satu rumah adat Karo itu dihuni oleh empat ataupun delapan jabu(keluarga), bahkan di beberapa daerah ada yang sampai enam belas(16) jabu dalam satu rumah adat, sementara dapurnya hanya ada empat.

            Mungkin jika kita membandingkan dengan kehidupan zaman sekarang ini, maka hal ini sangat menyusahkan menurut kita, dimana kita harus berbagi tempat tinggal dan dapur dengan empat, delapan, atau – bahkan enam belas jabu dalam satu rumah, sedangkan satu keluarga saja dalam satu rumah bukan main persoalan yang harus kita hadapi. Tetapi, itulah bukti keagungan dari rumah adat Karo, dimana rasa kebersamaan, kerjasama, saling berbagi sangat ditonjolkan dalam setiap aspek kehidupannya.

           Pada kesempatan kali ini saya ingin membahas sedikit tentang rumah adat Karo itu, serta sistem keamanan lingkungan (siskamling) yang diterapkan untuk menjaga ketertiban serta keamanan baik di dalam rumah adat tersebut maupun di lingkungan sekitarnya, sehingga ketertiban, keharmonisan, serta keselarasan antara jabu penghuni rumah adat tersebut dan lingkuangan sekitar dapat terus terpelihara dan terjaga dengan baik.

               Memang susah rasanya jika dalam satu rumah banyak penghuni dari berbagai keluarga dengan sifat dan latar belakan yang berbeda. Jika kita memahaminya dari sudut pandang ataupun tatanan hidup masyarakat modern, memang mustahil rasanya ketertiban itu dapat tercapai akan tetapi, jika kita lihat dari sudut pandang adat-istiadat Karo maka rasa optimis akan kembali tumbuh dalam benak kita!


             Untuk memahami hal ini, pertama saya ingin mengajak pembaca terlebih dahulu sedikit mengenal rumah adat Karo itu sendiri.  

I.  Pengertian dan Fungsi Rumah Adat Karo

1. Pengertian

             Rumah Adat Karo adalah rumah adat yang dihuni oleh masyarakat Karo, yang dimana sejak dari proses pendiriannya sampai kepada siapa kelak yang akan menghuninya ditentukan berdasarkan adat-istiadat Karo, sehingga disebut dengan “ rumah adat Karo ” dan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bangunan ini dihuni oleh empat, delapan, bahkan di beberapa daerah ada sampai enam belas jabu(keluarga) yang menghuninya. Bangunan ini juga sering disebut dengan rumah si waluh jabu.

 2.    Fungsi

            Seperti pada umumnya rumah berfungsi sebagai tempat tinggal, namun seiring dengan perkembangan masyarakat dan kuta(desa, kampung, permukiman) maka fungsi dari suatu rumah adat juga akan mengalami perkembangan. Seperti halnya dalam masyarakat tradisional Karo, rumah adat bisa berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah Sibayak(raja), jambur (balai desa, lumbung penyimpanan padi, dan tempat para muda-mudi). 


II.  Bentuk rumah adat Karo

          Jika kita lihat, rumah adat Karo memiliki bentuk yang sangat megah dan unik dengan didominasi warna alam seperti hitam, putih, dan coklat, dan ditambah dengan warna-warna lainnya(didominasi warna merah, putih, dan kuning) pada ornamen(ragam hias) ukir maupun lukis pada bagian dinding, tudung(kepala/muka rumah), dan tiang-tiang rumah tersebut, serta di pucuk atapnya diberi kepala kerbau bertanduk yang melambangkan keagungan dan kemegahannya.

        Ditinjau dari bentuknya, rumah adat Karo dapat dibagi menjadi dua bentuk yang dapat dilihat berdasarkan 1) atapnya dan 2) binangunnya(rangka).

1.  Berdasarkan bentuk atap

a.    Rumah Sianjung-anjung.

           Rumah Sianjung-anjung memiliki muka empat ataupun lebih, yang terdiri dari satu tersek ataupun dua tarsek yang bertanduk. Lihat seberti gambar dibawah!

model rumah siangjung-anjung

b.    Rumah Mecu.

Rumah ini bentuknya sederhana, sama seperti rumah-rumah pada umumnya dan mungkin yang membedakannya adalah proses pendiriannya, penghuninya, fungsinya, serta model atapnya. Rumah Mecu ini bermuka dua dan mempunyai sepasang kepala kerbau bertanduk. Perhatikan gambar berikut ini!

model rumah mecu
  
2.  Model rumah adat Karo berdasarkan binangun (tiang)-nya.

a.    Rumah Sangka Manuk

             Rumah sangka manuk adalah rumah yang binangunnya(tiang) dibuat dari balok yang bertindihan. Perhatikan gambar berikut!

konstruksi balog yang ditintih.

b.   Rumah Sendi.

Rumah yang binangunnya yang berdiri dan masing-masing binangun itu dihubungkan dengan balok satu dengan lainnya sehingga menjadi sendi(padu) dan kokoh. Dalam nyanyian rumah ini sering juga disebut Rumah Sendi Gading Kurungen Manik.

sendi.

III.  Arah pendirian rumah adat Karo.

            Rumah adat Karo dalam satu kuta didirikan berdasarkan arah aliran lau(air, sungai) di kuta(desa, permukiman) tersebut, dalam praktenya, method ini berlaku di wilayah Karo bagian Timur, sedangkan untuk wilayah Barat(Singalor Lau, teruh deleng)memang juga berpatok pada arah jahe dan julu, akan tetapi jage dan julu dalam hal ini tidak berdasarkan aliran lau, akan tetapi berdasarkan arah terbit dan terbenamnya matahari, dimana jahe = barat dan julu = timur. . Hal ini mungkin untuk mempermudan kegiatan MCK, maka arahnya berdasarkan arah kenjahé (jahé =hilir) dan kenjulu (julu = hulu).

Berlaku untuk wilayah KaroTimur
Berlaku untuk wilayah Karo Barat ( Singalor Lau, teruh deleng)

B. Penghuni Rumah adat Karo.

           Rumah adat Karo, dihuni oleh masyarakat Karo! Seperti yang sudah kita singgung sebelumnya, dalam satu rumah adat Karo, bisa dihuni oleh empat jabu(keluarga), delapan, bahkan enambelas jabu. Selain dari jumlahnya, keunikan dari rumah adat Karo ini juga tmpak dalam penyusunan(penempatan)jabu-jabu yang mendiaminya, yang dimana dilakukan berdasarkan atas ketentuan adat Karo.

             Secara garis besar, jabu-jabu yang mendiami rumah adat ini terbag atas dua bagian jabu, yakni: (1) jabu jahé(hilir), yang terdiri atas:  jabu bena kayu dan jabu lepar ben kayu; (2) jabu julu (hulu), terdiri atas: jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu. Inilah yang disebut dengan jabu adat.

          Adapun susunan  jabu-jabu yang menempati rumah adat Karo yang didasarkan atas adat Karo adalah sebagai berikut:

1. Jabu Benana Kayu.

Bena Kayu (dasar kayu) Terletak di jabu jahé. Kalau kita masuk dari pintu jahé, letaknya di sebelah kiri. Jabu ini dihuni oleh para keturunen simantek kuta (golongan pendiri kampung) atau sembuyak-nya.
Fungsinya adalah sebagai pemimpin rumah adat.

2. Jabu ujung Kayu (anak beru).

Ujung Kayu, jabu ini arahnya di arah kenjulu rumah adat. Kalau kita masuk kerumah adat dari pintu kenjulu, letaknya disebelah kiri atau diagonal dengan letak jabu benana kayu. Jabu ini ditempati oleh anak beru kuta atau anak beru dari jabu benana Kayu. Fungsinya adalah sebagai juru bicara jabu bena kayu.

3. Jabu Lepar Benana Kayu (sungkun berita)

Lepar Bena Kayu (seberang dasar kayu) Jabu ini di arah kenjahé (hilir). Kalau kita kerumah dari pintu kenjahé letaknya disebelah kanan, Penghuni jabu ini adalah sembuyak dari jabu benana kayu.

Fungsinya untuk mendengarkan berita-berita yang terjadi diluar rumah dan menyampaikan hal itu kepada jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu sungkun berita (sumber informasi).

4. Jabu lepar ujung kayu (mangan-minem)

Lepar Ujung Kayu (seberang ujung kayu) Letaknya dibagian kenjulu (hulu) rumah adat. Kalau kita masuk dari pintu kenjulu ke rumah adat, letaknya di sebelah kanan. Jabu ini ditempati oleh kalimbubu jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu si mangan-minem.
Keempat jabu inilah yang disebut dengan jabu adat, karena penempatannya harus sesuai dengan adat, demikian juga yang menempatinya ditentukan menurut adat. Akan tetapi, adakalanya juga rumah adat itu terdiri dari delpan atau enam belas jabu.

Keempat jabu(keluarga) penghuni rumah adat Karo diatas, itulah yang disebut dengan jabu adat.! Untuk lebih jelasnya dimana letak keempat jabu tersebut, perhatikan gambar berikut!

Tata letak penghuni rumah adat Karo.

bersambung..