Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Sora Mido

Sora Mido(Suara Kesedihan), merupakan ungkapan kesedihan ataupu ratapan karena peperangan yang menimbulkan banyak korban harta, benda, dan jiwa. Lagu ini menggambarkan totalitas masyarakat Karo dalam berperang mempertahankan harga diri dan wilayahnya, dimana sejarah mencatat bahwa hampir seluruh wilayah Taneh Karo Simalem dibumi-hanguskan agar serdadu Belanda tidak dapat mempergunakan fasilitas apapun untuk menunjang administrasi dan pertahanannya di Taneh Karo(Dalan catatan sejarah Drs. Teridah Bangun, pada agresi Belanda I tahun 1947 banyak kuta (kampung) yag dibumi-hanguskan supaya tidak dapat dipergunakan oleh penjajah. Terdapat 53 kuta yang dibumihanguskan di Tanah Karo, yakni: 1. Jumaraja (Cintarayat); 2. Keling; 3. Payung; 4. Berastepu; 5. Batukarang; 6. Sarinembah; 7. Perbesi; 8. Kuala; 9. Kutabangun; 10. Pergendangen; 11. Keriahen; 12. Singgamanik; 13. Kinepen; 14. Munthe; 15. Suka; 16. Rumah Kabanjahe; 17. Kota Kabanjahe; 18. Berastagi; 19. Kacaribu; 20. Kandibata; 21. Lau Baleng; 22. Susuk; 23. Tiganderket. 24. Kuta Buluh; 25. Tanjung; 26. Gurukinayan; 27. Selandi 28. Kidupen; 29. Gunungmanukpa; 30. Toraja; 31. Silakkar; 32. Rajatengah; 33. Tigabinanga; 34. Ajinembah; 35. Tiga Panah; 36. Barus Jahe; 37. Tigajumpa; 38. Merek; 39. Tengging; 40. Garingging; 41. Ergaji; 42. Barung Kersap; 43. Tanjung Beringin; 44. Naman; 45. Sukadebi; 46. Kutatengah; 47. Sigarang-garang; 48. Ndeskati; 49. Gamber; 50. Gruhguh; 51. Sukajulu; 52. Kuta Lepar; dan 53. Mbang Sibabi. Kemudian rakyat Karo mengungsi ke Tanah Pakpak Dairi dan Tanah Alas di Aceh. Setelah perjanjian Renville Januari 1948 baru mereka kembali ke kampungnya masing-masing.)

Lagu dengan melodi yang liris dan syahdu yang sangat tergambar kesedihan dan kepiluan didalamnya, ditambah penjelasan dari syairnya yang menggambarkan kekejaman peperangan, sehingga dibait-bait akhirnya ada terselip pesan bagi para sinatang layar-layar(pemegang bendera, maksudnya: bendera lambang negara yang berdaulat, sehingga sinatang layar-layar merujuk kepada orang-orang yang memegang kedaulatan atau sederhananya pemerintah yang berkuasa) jangan melupakan kegetiran masa perang dan agar menghormati jasa-jasa pejuang dan keluarganya yang telah berkorban, sehingga kelak tidak adalagi peperangan dan generasi berikutnya mampu menghargai jasa perjuangan bangsanya dan membawa bangsa Indonesia ini ke perubahan yang terus semakin baik. Berikut syair dari lagu Sora Mido, karya Djaga Depari.

Sora Mido
Terbegi sora bulung-bulung erdeso
I babo makam pahlawan silino
Bangunna serko medodo
Cawir cere sorana mido-idom
Cawir cere sorana mido-idom

Terawih dipul meseng kutanta ndube
Iluh silumang ras simbalu-mbalu erdire-dire
Sora ndehereng erperenge-renge ate
Kinata ngayak-ngayak medeka ndube
Kinata ngayak merdeka ndebe

Emakana tangarlah si’ncikep layar-layar
Ola kam merangap, turang dingen ola kena erjagar-jagar
Kesah ras dareh kel ndube tukurna merdekanta enda
Ola lasamken pengorbanen bangsanta
Ola lasamken kahulna bangsanta

Enggo kap megara lau lawit ban dareh simbisanta
Enggo megersing lau paya-paya ban iluh tangista
Enggo kap gelap langit perbahan cimber meseng kutanta ndube
Kinata ngayak-ngayak medeka kita
Kinata ngayak-ngayak merdeka kita

Tegu min dage temanta si’nggo cempang
Didong doahken anak sitading melumang
Keleng ras dame ateta sada karang
Em pertangisen kalak lawes erjuang
Em pertangisen kalak lawes erjuang


Terbegi sora bulung-bulung erdeso
Cawir cere sorana mido-idom
Cawir cere sorana mido-idom







I juma I padang sambo


         Kata Padang Sambo dalah tradisi Karo sering dipakai untuk menunjukkan sebuah lokasi/tempat kegiatan untuk mencari nafkah, bisa berupa laut(nelayan), juma-juam(ladang: petani), tiga/pajak(pasar: pedagang), dlsb.


            Adapun lagu I juma-juma I padang sambo ini menceritakan kegetiran dimasa perang, dimana beru Indonesia(putri Indonesia) bukan saja ikut serta secara langsung ke medan perang apakah sebagai tenaga medis, logistik, ataupun ikut serta mengangkat senjata, akan tetapi ada hal yang tak kalah penting, dima kaum wanita ini juga bertanggung jawab dalam membesarkan, merawat, serta memenuhi segala kebutuhan keluarga saat suaminya ataupun ayahnya pergi ke medan perang.  Berikut syair dari lagu I juma-juma I padang sambo, karya: Djaga Depari.

Seh kel bergehna bage I tengah juma
Rikut udanna pe gembura
Wari si ben pe bage ‘nggo ndabuh ku gelapna
I juma-juma I padang sambo
Doah-doah kudidong o, turang la megogo
E(i) karaben I padang sambo

Ola kel tangis, turang gelah kena mehuli
Nde lenga gia bapanta mulih
Ibas tugasna nari si la erlatih-latih
Engkawali rakyat si la erpilih
Doah-doah kudidong o, turang la megogo
E(i) karaben i padang sambo

Tangiska turang singuda ari
Terbapa-bapa la erngadi-ngadi
Mejuah-juah gelah bapata agi
Mulih me pagi mbaba berita simehuli

I juma-juma I padang sambo
Doah kudidong o, turang la mego-go

 




Erkata Bedil

Erkata Bedil adala salah satu lagu perjuangan Karo(dalam cakap/bahasa Karo), karya komponis nusantara Djaga Sembring Depari(Djaga Depari) asal Desa Seberaya, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jika kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Erkata Bedil mengandung artian “bunyi/dentuman senjata”. Erkata Bedil i kuta Medan(dentuman/bunyi senjata di kota Medan)adalah kalimat pembuka dari syair lagu ini serta di baris kedua dilanjutkan dengan kalimat Ngataken kami maju ngelawan(sebagai pertanda(panggilan) bagi kami untuk maju melawan). Itulah dua baris kalimat pada bait pembuka(pertama) dari lagu karya Djaga Depari ini. Medan merupakan kota yang didirikan oleh seorang putra Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi asal Ajijahe(dataran tinggi Karo) yang didiami penduduk asli dari suku Karo, Melayu, dan Simalungun, sehingga masuk dalam walayah Taneh Karo Simalem, ataupun merupakan salah satu wilayah adat suku Karo. Berkobarnya peperangan di kota Medan menjadi rasa tanggung jawab bagi pemuda/i Karo dari wilayah-wilayah Taneh Karo lainnya untuk membantu saudara-saudaranya yang di kota Medan. Perang di Medan adalah perang bagi seluruh wilayah dan masyarakat Karo, maka sering dikatakan “dari Medan area menuju Karo area” ini menunjukkan bahwa Medan adalah salah satu benteng terdepan yang sangat penting bagi dataran tinggi Karo dan dataran tinggi Karo juga merupakan kekuatan utama dari Dusun(Karo Jahe: Deli – Serdang/Medan), atau bisa dikatakan gudang laskar Simbisa(Simbisa sebutan bagi laskat/pasukan Karo). Jika basis pertahanan Medan telah takluk maka pastilah serangan akan ditujukan ke dataran tinggi Karo, dan begitu juga sebaliknya. Karena, Medan dan dataran tinggi Karo merupakan satu jaringan kekuatan perjuangan masyarakat Karo yang terus terhubung dan tak terpisahkan. Hal ini juga tergambar dalam Perang Sunggal yang tercatat sebagai perang telama yang pernah berlangsung di nusantara, dimana saat Datuk Sunggal Karo-karo Surbakti penguasa Urung Serbanyaman berperang melawan serdadu Belanda yang dibantu oleh Sultan Deli, masyarakat Karo dari wilayah Taneh Karo lainnya khususnya dari gugung(gunung/dataran Tinggi Karo) tidak bisa berdiam diri saja, maka pasukan Simbisa Taneh Karo pimpinan Nabung Surbakti yang mendapat persenjataan dari perdagangan dengan Portugis yang dalam penuturang karo disebut bangsa Peringgi dan Turki melalui Aceh(Acih) dan senjata tradisional Karo berupa tumbak/lambing(tombak/lembing), tumbuk lada(keris khas Karo), leltep(sumpit beracun), dll berbondong-bondong turun gunung membantu pasukan Datuk Sunggal melawan penjajah.
           
Itulah sekilas gambaran totalitas masyarakat Karo dalam hal berperang dalam rangka mempertahankan harga diri dan kedaulatan Taneh Karo Simalem dan dalam perang kemerdekaan Indonesia. Berikut syair dari lagu Erkata Bedil.

Erkata bedil i kuta Medan turang la megogo
Ngataken kami maju ngelawan ari oh, turang
Tading ijenda si turang besan turang la megogo
Rajin kujuma si muat nakan ari o, turang

O, turang la megogo ( kai aku nindu turang? )
Uga sibahan arihta?
Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

Adina lawes kena ku medan perang turang la megogo
Petetap ukur ola melantar ari o, turang
Adina ue nina pagi pengindo turang la megogo
Sampang nge pagi simalem ukur ari o, turang

Oh, turang la megogo (kai nindu ari turang?)
Uga sibaha arih-arihta?
Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

Adina sudu tangkena lenga turang la megogo
Pasarna licin bentengna wajan ari o, turang
Adina tuhu atendu ngena turang la megogo
Tantangi cincin man tanda mata ari o, turang

[ O, turang la megogo ( kai aku nindu turang? )
Uga sibahan arihta?

Arih-arihta tetap ersada ari o turang ] 2x





Selasa, 11 Desember 2012

Wacana menghidupkan kembali kekaroan dan kemelayuan di Patumbak

      Dalam beberapa kesempatan, para tokoh masyarakat dan pemuda di Kampung Karo – Patumbak, tidak jarang melontarkan keinginan untuk menambalkan jalan ke Kampung Karo ini dengan nama Karo, salah satunya usulan nama pendiri Kampung Karo yakni Tala Barus. Bukan hanya itu, ditingkat kecamatan juga beberapa kali muncul wacana untuk menambalkan nama Tengku Wan Epen Barus yang merupakan Raja Urung Senembah – Patumbak menjadi nama Jalan Besar Patumbak yang sampai pada saat ini masih bernama Jalan Pertahanan. Namun, hingga kini itu masih dalam sebatas wacana dan bahkan wacana-pun telah padam tanpa bekas.



Simpang Kampung Karo(Koleksi: Bastanta P. Sembiring, 2006)

Jika ditelisik lebih dalam, latar belakang dari munculnya wacana nama jalan ini tidak lain adalah rasa rindu akan wajah Patumbak dahulu yang kental akan rasa kekaroan dan kemelayuan-nya, dimana kita ketahui bahwa Patumbak yang kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Deliserdang(Kec. Patumbak) dulunya adalah salah satu Negeri(kerajaan) Urung Karo yang dipinpin oleh seorang raja urung ber-merga Karokaro Barus. Bahkan ibu kota Urung Senembah dalam sejarah tercatat berkedudukan di Petumbak(Patumbak).  Hal ini masih tampak dengan berdirinya sebuah bangunan tua tepat di simpang menuju Kampung Karo sekitar ± 100 meter dari kantor camat Patumbak, yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut sapo(rumah) mbelin, yang tidak lain adalah istana ataupun kediaman keluarga Raja Urung Senembah hingga saat ini.

Dan, wacana itu terdengar lebih mengaung di Kampung Karo, mengingat telah terkikisnya, bahkan hampir lenyap rasa kekaroan di bumi Senembah Patumbak Simalem ini, dan menyadari hanya Kampung Karo – Patumbak inilah satu-satunya yang hingga kini menunjukkan kekaroan itu, walaupun kini hanya sebatas nama saja!

Peta yang menunjukkan Kampung Karo-Patumbak
Peta Patumbak(wikipedia, modifikasi: Bastanta P. Sembiring)

 Perlu diketahui, cara pandang masyarakat Karo yang lebih kepada mengedepankan harmonisasi ketimbang eksploitasi ataupun penaklukan, membuat pergerakan itu melambat, kian meredup, dan sesekali muncul kembali jika diasah. Dan, jikalaupun terlalu sering disah, tetap sifat yang lebih kepada mengedepankan harmonisasi terlalu memikirkan apa yang ada di sekitar, sehingga nama yang bersifat lebih nasionalis lebih diutamakan daripada nama kedaerahan. Namun lucunya, disatu sisi ini terasa sangat aneh, karena saat teman-teman dari etnis lain memaksakan untuk menambalkan yang identik dengan etnisnya seperti yang terjadi pada Bandara Internasional Kuala Namo, masyarakat Karo ini seperti orang tua yang kebakaran jenggot. Jadi, apa salahnya kita mengusulkan nama yang identik dengan kita, toh memang itu daerah kita dan kampung halaman kita? Bukankah dengan demikian kita turut berperan menjaga kekayaan bangsa ini? Mejuah-juah.

Lihat juga:


Sabtu, 08 Desember 2012

Kampung Karo - Patumbak (Bag. II)


Saat hendak memasuki Kampung Karo atau dalam penuturan masyarakat Karo setempat dikatakan Sigara-gara Kuta Karo, tepat di pertigaan antara jalan besar Patumbak(Jl. Pertahanan) yang sempat juga muncul wacana untuk mengusulkan nama Tengku Wan Epen Barus yang merupakan Raja Urung penguasa daerah itu(Patumbak bekas ibu kota negeri Urung Senembah) dengan jalan menuju Kampung Karo, kita akan disambut oleh sebuah bangunan tua yang cukup megah di zamannya, yang pastilah kita akan berfikir itu adalah bekas kediaman petinggi Belanda atau setidaknya pegawai perkebunan Belanda.

Masyarakat setempat menyebut bagunan tua bercatkan putih itu dengan sebutan sapo(rumah) mbelin(rumah besar, istana). Memang bangunan itu merupakan rumah kediaman dari Raja Urung Senembah – Barus Mergana, yang dulunya penguasa dari Patumbak dan seluruh wilayah yang dulunya masuk dalam negeri(kerajaan) Urung Senembah.  Bahkan, hingga sampai saat ini beberapa anggota keluarga dari raja urung masih mendiami bangunan tua bergaya art-deco tersebut.

Jika kita masuk melalui Jalan Besar Patumbak(Jl. Pertahanan) disaat pagi hari dimana matahari mulai beranjak, maka kita seakan berjalan menuju matahari. Karena memang untuk menuju Kampung Karo dari pertigaan Jalan Besar Patumbak kita akan menghadap ke arah Timur. Sedangkan bangunan di sepanjang badan jalan Kampung Karo dari sisi kanan badan jalan(melalui Jalan Besar Patumbak) mengahadap ke arah selatan dengan menyampingi  Timur dan Barat, dan tentunya bangunan di sisi kiri jalan pastilah menghadap ke Utara.

Sekitar ± 300 merter dari pertigaan, kita akan menjumpai pertigaan jalan lagi di sebelah kanan sisi jalan arah Selatan yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut Kuta Mbaru(Kuta Baru) atau Jalan SMP karena diujung jalan lurus Kuta Baru ini akan diakhiri pertigaan lagi dan tepat di depan jalan lurus Kuta Baru ini berdiri bangunan SLTP(dulu SMP) Negeri I Patumbak.

Tepat dimulai dari pertigaan jalan ke Kuta Baru menuju arah Timur ke Kampung Karo, berdiri Perumahan Griya Prima Patumbak di kedua belah sisi jalan sepanjang ± 100 meter dan sekitar 50 meter dari pertigaan itu kita akan menjumpai Gereja Methodis Kyung Yie di sisi kiri dan sebuah Mesjid di sisi kanan jalan yang letaknya tepat di ujung komplek perumahan tersebut.

Meninggalkan Perumahan Griya Prima Patumbak, kita disambut perjumaan(perladangan) dan persabahen(persawahan) di kedua belah sisi jalan sepanjang  ± 100 meter. Dan di ujung persawahan itu ada persimpangan kecil di arah kiri yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut pendawan atau jalan kenangen yang adalah merupakan komplek pendonen(pemakaman) bagi masyarakat Karo. Dari simpang pendawan jalan agak menanjak dan di puncaknya sebelah kiri sisi jalan kita akan disambut sebuah bangunan yang cukup megah, yakni Greja Katolik St. Theresia dan sekitar 50 meter dari situ kita juga akan menemukan jalan menanjak dimana di puncaknya sebelah kanan sisi jalan kita akan disambut oleh bangunan Greja GBKP – Patumbak yang halamannya cukup luas ditumbuhi rumput hijau. GBKP – Patumbak ini merupakan gereja pertama yang berdiri di Kecamatan Patumbak sekitar tahun 1958. Dari simpang pendawan hingga ± 1 km ke Timur di kedua sisi jalan dipenuhi rumah-rumah masyarakat yang sudah berlapis hingga ke gang-gang kecil.

Sampai tahun 1999, Kampung Karo – Patumbak yang dipanteki(dibuka, didirikan, atau pertama kali dihuni) oleh Tala Barus dan sangkep nggeluhna(keluarga) dihuni mayoritas masyarakat etnis Karo dan beberapa dari etnis Simalungun dan Jawa, namun kedua etnis ini juga telah berbaur dan bahkan telah fasih dengan cakap(bahasa) Karo dan adat Karo, bahkan sudah menggunakan identitas Karo, dengan menggunakan merga Karo(Merga Silima) dibelakang namanya yang tampak pada KTP-nya.

Sejak tahun 1997 jalan Kampung Karo yang semula buntu mulai dirintis untuk tembus ke Kecamatan Tanjungmerawa. Awalnya hanya sampai di ujung perjuman antara masyarakat Kampung Karo dan masyarakat Ujung Serdang, Kecamatan Tanjungmerawa yang dibatasi oleh sebuah anak sungai yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut Lau Batangkuis, dan inilah ujung jalan yang hingga sekitar tahun 2010 baru dibangunkan jembatan yang menandai tersambungnya jalan Kampung Karo – Patumbak dengan jalan Ujung Serdang – Tanjungmerawa.

Mulai tahun 1999 berdatangan pendatang etnis Toba yang sebagian besar mereka merupakan korban gusuran dari daerah Mandala, Medan. Sehingga ujung dari Kampung Karo yang dulunya perladangan kini sudah dipenuhi permukiman warga.

Kampung Karo – Patumbak menyimpan banyak kenangan bagi saya yang dibesarkan di bagian dari Desa Sigara-gara itu, dan mungkin bagi masyarakat sekitarnya. Mengapa saya katakan demikian? Mungkin orang yang mengenal Kampung Karo atau Sigara-gara Kuta Karo akan merasa sedikit risih jika bertemu dengan pemuda di kampung itu. Mengapa tidak! Karena sejak dahulu, Kampung Karo ini di-cap sebagai kampung yang angker, seram, menakutkan, kejam, dan masih banyak penilaian negatif lainnya.

Cerita orangtua saya. Dahulu saat dia dan teman-teman masih remaja, daerah Kampung Karo ini merupakan penghasil kates dan kemiri. Dan, kates serta kemiri inilah yang kemudian membawa mereka terjun ke pasar-pasar di Kota Medan dan Kota Siantar. Dengan bangga ayah saya berkata ‘kates Patumbak dulu yang merajai Siantar!’ dan cerita ini juga dapat saya dengar dari orangtua lainnya.

Kemajuan pertanian dan ekonomi membuat masyarakat di Kampung Karo ini dapat berbicara di luar. Banyak putra/I dari Kampung Karo ini yang disegani di luar sana, apakah sebagai seorang pegawai negeri, pejabat, pedagang, petani berhasil, bahkan preman pasar.

Masih dalam cerita ayah saya. ‘Dahulu waktu remaja, kami asal sudah panen kates atau kemiri pasti nonton film di bioskom Bahagia atau pun Olympia. Bahkan tak jarang buat onar. Tak ada yang berani sama kami, orang preman-preman dan mandor Nasional(angkot) kami kenal semua.’

Hingga bersekolah di SLTP Negeri I Patumbak, saya tidak jarang melihat teman sesama orang Karo yang ke sekolah bahkan kemanapun dipinggangnya terselip tumbuk lada(belati). Dan, jika ada masalah, tidak segan-segan menghajar atau menusuk lawanya dengan tumbuk lada, tak pandang bulu, walau orang biasa, anggota TNI atau Polisi. Kejadian terakhir yang saya lihat di tahun 2000 saat sahabat Sunda saya yang baru dua bulan di Patumbak ditusuk dengan tumbuk lada dan sahabat saya yang lainnya membalas penusuk itu dengan memukul kepalanya dengan sebuah tali pinggang dari kulit tebal dengan kepala besi, sehingga kepala si penusuk jadi bocor dan mengeluarkan banyak darah.

Kejadian penusukan lainnya saya dengar terjadi di simpang Kampung Karo, dimana beberapa pemuda Kampung Karo menghajar beberapa anggota polisi yang tidak tahu atas alasan apa. 

Pengalaman saya saat berkenalan dengan seorang yang merupakan warga dari kecamatan tetangga, mendengar nama Kampung Karo dia langsung mengatakan kuta begu(kampung hantu). "Tidak ada yang selamat jika masuk!”, katanya. Lalu dari orang yang berbeda menuturkan “Enggak ah, saya ogah masuk Kampung Karo. Nanti harus pula gendong sepeda pulang!”, katanya.

Saat bergulirnya Reformasi di tahun 1998, masyarakat Kampung Karo dengan brutalnya membabat habis hasil kebun kakao dan kelapa sawit milik PTPN, sehingga muncul sebutan MACO atau singkatan dari ‘maling coklat(kakao)’ dan MASA yang merupakan singkatan dari ‘maling sawit’ ataupun NASA yang merupakan singkatan dari ‘ninja sawit’. Kebrutalan masyarakat Kampung Karo ini, sepihak dianggap sebuah tindakan yang berani, karena untuk menjarah aset PTPN yang notabene-nya adalah prusahaan ber-plat merah saat itu adalah hal yang dianggap sangat berbahaya karena harus berhadapat dengan para Satpam PTPN, preman, TNI, dan kepolisian. Dan, disisi lain itu menjadi sebuah aib yang harus dipikul anak-anak generasi berikutnya tak terkecuali saya.

Pernah sekali saat saya mengikuti bimbingan belajar di Medan, saat pulang ke rumah saya ditanyai seorang bapak, katanya: “Adek tinggal dimana?”

Jawab saya datar : “Patumbak, Pak!”
Lalu si bapak bertanya lagi: “Patumbak-nya dimana?”
“Sigara-gara, Kampung Karo, pak.” Jawab saya.
Lalu si bapak berkata: “Yang banyak MACO dan Ninja Sawit, ya?”

Dan sayapun hanya menganggukkan kepala saya sambil tersenyum menutupi rasa malu saya karena sudah saya lihat seisi angkot(angkutan kota) itu tertawa memandang ke arah saya. Sebagai tambahan, Kampung Karo - Patumbak dikelilingi oleh areal perkebunan. Dimana di sebelah Utara berbatasan dengan perkebunan kakao(coklat) dan di Selatan berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit.

Masa-masa antara 1998 hingga tahun 2002 bisa saya katakan masa yang sangat memprihatinkan kembali kepada generasi di Kampng Karo. Disaat uang berlimpah dari hasil penjarahan perkebunan, kalau boleh saya gambarkan, anak sekitar kelas 1 SD saja saat itu di saku celananya rata-rata ada mengantongi uang Rp. 50.000 – 300.000 dari hasil penjualan coklat dan kelapa sawit. Kerisis moneter yang dialami negara Indonesi tidak terasa oleh masyarakat Patumbak umumnya dan Kampung Karo khususnya. Mudah rasanya bagi mereka mencari dan menghamburkan uang. Dan pastilah memberi efek-samping bagi perkembangan generasi mudanya yang terbiasa berlimpah materi.

             Uang berlimpah, semua bisa dibeli. Pemandangan anak kecil merokok menjadi hal biasa bagi kami. Narkoba bukan benda yang asing. Judi dimana-mana. Kampung Karo menjadi sasaran utama bagi pedagang, walau dusun yang terisolasi. Masa-masa suram menambah potret buram Kampung Karo. (bersambung...)


Peta Kampong Karo - Patumbak (oleh: Bastanta P. Sembiring)

Kamis, 06 Desember 2012

Kampung Karo Patumbak

Kampung Karo  adalah nama salah satu dusun di Desa Sigara-gara (Kec. Patumbak, Kab. Deliserdang). Kampung Karo ini didirikan oleh Tala Barus dan sangkep nggeluhna. Kampung yang oleh orang-orang Karo biasanya disebut Sigara-gara Kuta Karo ini dulunya terisolasi karena jalannya buntu, tapi kini telah memiliki jalan tembus. Adanya jalan tembus mencuatkan wacana untuk memberi nama jalan. Salah satu usulan adalah Jalan Tala Barus sehubungan beliaulah orang pertama yang tinggal di Kampung Karo. Disayangkan, wacana ini kembali meredup.

Jalan sepanjang Kampung Karo yang dulunya buntu kini menjadi jalan alternatif penghubung antara Kecamatan Patumbak dengan Kecamatan Tanjungmerawa. Bahkan, jalan yang dikatakan jalan alternatif ini kini ramai karena warga dari kecamatan lain seperti Sibiru-biru, Delitua, Namorambe, Pancurbatu, Kutalimbaru, dan Sibolangit lebih memilih melewati jalur ini jika hendak menuju Lubukpakam (ibu kota Kabupaten Deliserdang). Selain lebih dekat dan lebih aman, juga dapat terhindar dari kemacetan dibandingkan bila melewati jalan-jalan di Kota Medan.

Tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali Dusun IV Sigara-gara - Kampung Karo ini dihuni. Namun, dari beberapa kesaksian penduduk asli (yang setidaknya mendiaminya sejak tahun 1960-an), para penduduk lama Kampung Karo ini adalah pemindahan dari kawasan yang disebut oleh penduduk setempat Asahan (Sungai Asahan) yang letaknya sekitar Medan Amplas; sekarang antara Medan Denai, Simpang Marindal, hingga batas antara Kecamatan Patumbak dengan Kota Medan. Sekitar tahun 1950-an, penduduk yang awalnya membuka perjuman (perladangan) di sekitar Asahan ini ditawari oleh Raja Urung Senembah Patumbak (Barus Mergana) untuk pindah ke lahan yang baru dengan kesepakatan konpensasi akan menerima dua kali lipat dari lahan garapan semula. Selain itu, dijanjikan kebebasan menggarap lahan jaluren dari Lau Sibenang (batas Desa Sigara-gara dengan Desa Lantasan Lama) – Lau Batang Kuis(batas kecamatan Patumbak – Tanjung Merawa), hingga jalan besar Patumbak.

Namun, dibelakang hari, banyak timbul permasalahan antara lahan jaluren ini. Kebebasan menggarap tidak kunjung dirasakan. Begitu juga dengan isu-isu pengambilalihan kembali lahan yang sudah ditempati ini oleh pihak-pihak yang mengaku lebih berhak. Namun, permasalahan ini dapat diredam dengan jalan kekeluargaan dan adat Karo. Permasalahan kembali muncul diawali saat meletusnya Reformasi di akhir tahun 1997. Masyarakat berbondong-bondong kembali menggarap lahan yang selama ini dikelola dan dikuasai oleh pihak PTPN yang hingga kini belum ada solusi penyelesaiannya.

Perlu diketahui, gereja pertama kali berdiri di Kecamatan Patumbak terletak di Dusun IV Kampung Karo ini, yakni GBKP. Gereja ini resmi berdiri di sana tahun 1958 dan menjadi gereja pertama yang berdiri di Kecamatan Patumbak. Selain itu, walau dikatakan dusun yang terpencil dan buntu, namun kampung Karo ini juga tercatat sebagai penghasil sarjana bagi Kecamatan Patumbak dari dulu hingga sekarang. Bisa dikatakan, sarjana pertama dari Kecamatan Patumbak berasal dari dusun ini, yakni Nemer Tarigan (mantan Sekwan DPRD Tk. II Deliserdang) dan Rupia Ginting Munte. Bersambung...


Minggu, 23 September 2012

Gereja Injil Karo Indonesia(GIKI)

Gereja Injil Karo Indonesia atau disingkat GIKI, merupakan salah satu gereja yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat suku Karo, atau dengan kata lain, gereja yang pada dasarnya lahir untuk menaungi masyarakat Kristen Karo,  yang pada awal-awal kemunculannya di tahu 1992 diantara masyarakat Karo perantauan. Walaupun GIKI merupakan gereja yang pada dasarnya menaungi masyarakat Kristen dari suku Karo, namun tidak jarang juga kita menemui anggota-anggota jemaatnya yang berasal dari etnis lain, karena selain sebagai wadah pemersatu dan pelayanan bagi masyarakat kristen Karo, seperti halnya gereja kristen lainnya di muka bumi ini tetaplah mengedepankan kasih karunia Kristus Yesus disamping tradisi budaya yang ada.

Memang keberadaan GIKI ini belumlah dikenal secara luas, bahkan diantara masyarakat suku Karo sendiri, namun gaung perkembangannya sudah mulai tampak, baik di Pulau Jawa maupun di Sumatera, terkhusunya di Kota Medan, Kab. Deliserdang, dan Kabupaten Karo yang merupakan basis terbesar dimana masyarakat suku Karo berdomisili. 

Perpaduan antara Injil(Firman Tuhan) dan budaya Karo, merupakan sebuah misi yang ingin diembah Gereja Injil Karo Indonesia tersebut, dimana hal ini dijabarkan dalam keterangan yang tercantum pada Fun Page –nya Gereja Injil Karo Indonesia(https://www.facebook.com/pages/Gereja-Injili-KARO-Indonesia/187535104618117) seperti dijabarkan berikut:

Tentang
Kami Mencintai 2K, Kristus dan Karo, Kami menyembah Tuhan Yesus dengan budaya Karo.
Misi
Menjadikan orang Karo pengikut Kristus yang taat dan menyembah-Nya dalam budaya lokal yang ada.
Keterangan
Gereja > Gereja adalah persekutuan orang percaya yang hidup untuk Kristus
Injili > hidup berdasarkan Injil (kitab suci) dan Yesus Kristus sebagai Mesias dan Anak Allah Yang hidup.
Karo > nama suku (bukan subsuku) yang ada di Sumatera Utara
Indonesia > wilayah, bangsa, dan politik.

Dari penjabaran diatas, tampak kalau Gereja Injil Karo Indonesia ini hendak menunjukkan pelayanan Firman Tuhan tanpa mengesampingkan nilai-nilai luhur budaya yang ada, dan menitik beratkan kepada budaya serta identitas Karo Sirulo(sejati), setidaknya itu yang tersirat dalam keterangan, sehingga missi hendak “Menjadikan orang Karo pengikut Kristus yang taat dan menyembah-Nya dalam budaya lokal yang ada.” Dapat terlaksana dalam kasih karuni Kristus. Semoga Tuhan Yesus memberkati Gereja Injil Karo Indonesia dan masyarakat Karo semua. Syaloom ras mejuah-juah!


Beberapa alamat GIKI:
Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI)  Jakarta
Perum Taman Duren Sawit
Blok AI No. 3 Duren Sawit
JAKARTA TIMUR
Telp. (021) 8603873

Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) Bandung
Jl.Dago No 109 Bandung
Kontak Pelayananan:022 76428544/ 081395287651/081322160810

Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) Cimahi
Jl.Gatot Subroto (Gedung SASDIKSUSJUR) Cimahi
Kontak pelayanan:022 91609423/081394882842

Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) Medan

Jl.Jamin Ginting No 48 Pokok Mangga Medan

Kontak pelayanan:081322559522


Gereja Injil Karo Indonesia Medan
 Jl Dr Setiabudi 144, Sei Sikambing B, Medan Sunggal
Postal code: 20122
Phone number: +62.61.8217770
Fax: 021 54213561

Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) Bandar Baru
Jl.Jamin Ginting No 74
Desa Bandar Baru
Kec.Sibolangit (20357)
Kontak Pelayanan:08153156333/081271134475

Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) Sukarame
Desa Sukarame, kec. Munte, Kab. Karo
Kontak pelayanan:081376827874

Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) Perbesi
Desa Perbesi, kec. Tiga Binaga, Kab. Karo
Kontak pelayanan:081376827874

Gereja Injil Karo Indonesia Kabanjahe
Address: Jl Perwira 5, Gung Leto, Kabanjahe
Postal code: 22111
Phone number: +62.628.323219
Fax: 0271 717812