Berikut daftar acara yang berhasil kami himpun di tahun 2013 yang masih(sedang) ataupun belum berlangsung.
Daftar acara di tahun 201
Selasa 25 Juni 2013 Napak Tilas Penginjil Pertama ke masyarakat Karo yang dilaksanakan mulai dari Buluh Awar sampai ke Barus Jahe.
Kamis, 27 Juni 2013 Ibadah Pesakh keliling Kabanjahe untuk kelepasan Tanah Karo dan doa bersama yang dipusatkan diempat titik di Kabupaten Karo(Lau Dah, Simpang Empat, Tiganderket, dan Tiga Baru)dari bencana alam, dari hama tanaman, dari penyakit sosial, dan dari berbagai kemiskinan.
Kursus Calon Penginjil yang diadakan oleh GIKI(Gereja Injili Karo Indonesia) direncanakan diadakan pada bulan April 2013 di Medan. Saudara yang terpanggil untuk menjadi penginjil silakan mendaftar ke pengerja GIKI setempat.
Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di GIKI Medan pada 23 Maret 2013 pukul 16.00 WIB.
Pembinaan Pengerja GIKI Sumut di Bandar Baru pada Minggu, 24 Maret 2013 pukul 14.00 WIB s/d selesai.
Sekarang telah memasuki bulan kedua
saat pembicaraan dan kesepahaman tentang pengadaan kontes blog bagi para bloger
yang menaruh perhatian serta minatnya kepada budaya Karo, namun hingga sampai
pada detik ini kepenitiaanpun belum terbentuk. Mengapa demikian?
Ada beberapa kalangan berpendapat
kalau kontes yang seperti ini nantinya tidak akan memberi keuntungan bagi
budaya Karo dan hanya sebagai ajang menghabiskan uang saja, atau singkatnya
pemborosan! Benarkah tidak akan memberi untung kepada budaya Karo dan hanya
pemborosan? Bosan untuk memberi penjelasan! Cuma, satu hal… jangan mengeluh
jika generasi muda Karo dan yang bukan Karo namun memberi berminat kepada
budaya Karo malah lebih mengenal dan menggemari budaya lain, sebut saja suku
tetanggga Toba. Seperti contoh! Generasi muda Karo lebih senang memakai dan
mengakui tradisi dari Toba, sedangkan di Karo sendiri memiliki tradisi-tradisi
yang beragam. Namun, mengapa generasi Karo lebih senang dan lebih mengakui
tradisi dari suku yang lain? Bahkan, sarjana dan penulis-penulis Karo, baik
buku, tabloid, website, blog, dan media lainnya lebih menyenangi dan lebih
mengerti tradisi dari suku bangsa seberang. Hal ini tidak lain karena setiap
hari mereka terbiasa disuguhkan tradisi-tradisi dari suku tetangga ketimbang
tradisi leluhurnya sendiri, baik yang mereka serap dari media elektronik,
cetak, maupun internet.
Sekarang! Muncul sebuah gagasan
untuk membuat kontes blog Karo, dimana para bloger dipacu untuk menulis pada
halaman mereka tentang tradisi Karo tersebut. Ini sebuah kesempatan agar Karo
itu lebih banyak dikeperkenalkan didunia maya. Ingat sebahagian besar interaksi
manusia sekarang didunia maya. Menguntungkan atau tidaknya bagi budaya Karo
itu, silahkan nilai sendiri.
Sora Mido(Suara Kesedihan), merupakan
ungkapan kesedihan ataupu ratapan karena peperangan yang menimbulkan banyak
korban harta, benda, dan jiwa. Lagu ini menggambarkan totalitas masyarakat Karo
dalam berperang mempertahankan harga diri dan wilayahnya, dimana sejarah
mencatat bahwa hampir seluruh wilayah Taneh Karo Simalem dibumi-hanguskan agar
serdadu Belanda tidak dapat mempergunakan fasilitas apapun untuk menunjang
administrasi dan pertahanannya di Taneh Karo(Dalan catatan sejarah Drs.
Teridah Bangun, pada agresi Belanda I tahun 1947 banyak kuta (kampung) yag
dibumi-hanguskan supaya tidak dapat dipergunakan oleh penjajah. Terdapat 53
kuta yang dibumihanguskan di Tanah Karo, yakni: 1. Jumaraja (Cintarayat); 2.
Keling; 3. Payung; 4. Berastepu; 5. Batukarang; 6. Sarinembah; 7. Perbesi; 8.
Kuala; 9. Kutabangun; 10. Pergendangen; 11. Keriahen; 12. Singgamanik; 13.
Kinepen; 14. Munthe; 15. Suka; 16. Rumah Kabanjahe; 17. Kota Kabanjahe; 18.
Berastagi; 19. Kacaribu; 20. Kandibata; 21. Lau Baleng; 22. Susuk; 23. Tiganderket.
24. Kuta Buluh; 25. Tanjung; 26. Gurukinayan; 27. Selandi 28. Kidupen; 29.
Gunungmanukpa; 30. Toraja; 31. Silakkar; 32. Rajatengah; 33. Tigabinanga; 34.
Ajinembah; 35. Tiga Panah; 36. Barus Jahe; 37. Tigajumpa; 38. Merek; 39.
Tengging; 40. Garingging; 41. Ergaji; 42. Barung Kersap; 43. Tanjung Beringin;
44. Naman; 45. Sukadebi; 46. Kutatengah; 47. Sigarang-garang; 48. Ndeskati; 49.
Gamber; 50. Gruhguh; 51. Sukajulu; 52. Kuta Lepar; dan 53. Mbang Sibabi. Kemudian
rakyat Karo mengungsi ke Tanah Pakpak Dairi dan Tanah Alas di Aceh. Setelah
perjanjian Renville Januari 1948 baru mereka kembali ke kampungnya
masing-masing.)
Lagu dengan melodi yang
liris dan syahdu yang sangat tergambar kesedihan dan kepiluan didalamnya,
ditambah penjelasan dari syairnya yang menggambarkan kekejaman peperangan,
sehingga dibait-bait akhirnya ada terselip pesan bagi para sinatang layar-layar(pemegang bendera,
maksudnya: bendera lambang negara yang berdaulat, sehingga sinatang layar-layar merujuk kepada orang-orang yang memegang
kedaulatan atau sederhananya pemerintah yang berkuasa) jangan melupakan
kegetiran masa perang dan agar menghormati jasa-jasa pejuang dan keluarganya
yang telah berkorban, sehingga kelak tidak adalagi peperangan dan generasi
berikutnya mampu menghargai jasa perjuangan bangsanya dan membawa bangsa
Indonesia ini ke perubahan yang terus semakin baik. Berikut syair dari lagu
Sora Mido, karya Djaga Depari.
Sora Mido
Terbegi sora
bulung-bulung erdeso
I babo makam
pahlawan silino
Bangunna
serko medodo
Cawir cere
sorana mido-idom
Cawir cere
sorana mido-idom
Terawih
dipul meseng kutanta ndube
Iluh
silumang ras simbalu-mbalu erdire-dire
Sora
ndehereng erperenge-renge ate
Kinata
ngayak-ngayak medeka ndube
Kinata
ngayak merdeka ndebe
Emakana
tangarlah si’ncikep layar-layar
Ola kam
merangap, turang dingen ola kena erjagar-jagar
Kesah ras
dareh kel ndube tukurna merdekanta enda
Ola lasamken
pengorbanen bangsanta
Ola lasamken
kahulna bangsanta
Enggo kap
megara lau lawit ban dareh simbisanta
Enggo
megersing lau paya-paya ban iluh tangista
Enggo kap
gelap langit perbahan cimber meseng kutanta ndube