Jumat, 03 Februari 2012

Katika Bag. I (Pengantar)

by: Bastanta P. Sembiring
 
I. Pengantar

              Pada dasarnya, masyarakat tradisional Karo adalah masyarakat yang agraris. Agraris dalam artian, segala aktifitas sosialnya berkaitan dengan kehidupan bertani (mata pencaharian utama mayoritas  masyarakat Karo adalah bertani). Sehingga, untuk mencapai kesejahtraannya maka dibutuhkan keuletan dalam mengolah tanah sebagai media dasar dalam hal bertani.

              Dalam perjalanannya sebagai masyarakat yang agraris, untuk memaksimalkan hasil dari pengolahan tanah (bertani) yang dilakukan, maka masyarakat Karo bukan hanya(telah) mampu menciptakan alat-alat pertanian (alat tradisional) untuk mengolah tanah, namun juga dalam hal pemberdayaan bibit unggul, pemilihan jenis tanaman, dan perawatan tanaman, tetapi juga telah mampu melakukan prediksi tanam(kapan saat menanam dan kapan saat menuai yang tepat/cocok) agar mencapai hasil yang maksimal.

             Prediksi tanam tersebut, seperti yang kita ketahui dalam kehidupan masyarakat agraris secara umun ini berkaitan dengan masa tanam dan masa menuai. Jadi, dalam hal ini dibutuhkan pengetahuan(kemampuan membaca atau memahami) akan kondisi alam yang berkaitan dengan cuaca (iklim) yang mungkin akan terjadi dalam tiap-tiap waktu dalam prediksi minimal satu tahunnya. Dalam hal ini, masyarakat tradisional Karo telah mampu mengembangkan satu sistem yang disebut dengan Katika. Mungkin bagi sebahagian orang katika ini masih terdengar asing, akan tetapi masyarakat Karo telah mengenal dan menerapkannya dalam setian aspek kehidupannya (bukan hanya untuk keperluan bertani saja).

II. Pengertian Katika

          KATIKA, adalah salah satu ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Karo, yang meliputi: namis si lima(lima pembagian waktu dalam satu harinya), wari si-telupuluh(ke-tiga puluh hari dalam kalender Karo), paka sepuluh-dua(kedua belas bulan dalam setahun), dan desa siwaluh(delapan arah penjuru mata angin).

III. Fungsi dan Penggunaan Katika

         Seperti yang telah dijelaskan pada bagian pengantar didepan, dikatakan bahwa dalam masyarakat tradisional Karo katika ini sangatlah berpengaruh dalam setiap aspek kehidupannya, dimana katika ini berfungsi sebagai tolak ukur ataupun pedoman bagi masyarakat tradisional Karo dalam suatu keiinginnan(aktifitas) untuk melakukan sesuatu. Misalnya: mencari pekerjaan, meminang, menghadap seorang yang penting, berperang, bertani, berburu, membuat ramuan obat-obatan, upacara adat, upacara keagamaan, membangun rumah, dll. Maka, oleh karena itu setiap masyarakat tradisional Karo jika ingin melakukan sesuatu hal, biasanya terlebih dahulu (me-)niktik wari  (melihat hari untuk menentukan umur bulan), hal ini biasanya dimintai(ditanya) kepada seorang Guru Perkatika ataupun Guru Siniktik Wari(orang pandai yang mampu membaca keadaan alam).

           Adapun namis si lima(lima pembagian waktu dalam satu harinya), wari si telu puluh(ke-tiga puluh hari), paka sepuluh dua(ke-dua belas bulan), dan desa siwaluh(delapan arah penjuru mata angin) dalam katika(kalender Karo) serta penggunaannya, adalah sebagai berikut: ( bersambung... =>)
   
Tulisan Selanjutnya untuk Katika.
Namis Silima, Wari Sitelu-puluh, Paka Sepuluh-dua, dan Desa Siwaluh.
Lihat juga tulisan saya lainnya di: Rudang Rakyat Sirulo dan Cerita Karo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar